Karya Sastra

JENIS-JENIS (GENRE) SASTRA

Imam

Imam Barqoui

Sastra  imajinatif

Sastra  imajinatif  adalah  sastra  yang  berupaya  untuk  menerangkan,  menjelaskan, memahami,  membuka  pandangan  baru,  dan  memberikan  makna  realitas  kehidupan agar  manusia  lebih  mengerti  dan  bersikap  yang  semestinya  terhadap  realitas kehidupan.  Dengan  kata  lain,  sastra  imajinatif  berupaya  menyempurnakan  realitas kehidupan walaupun sebenarnya  fakta atau  realitas kehidupan sehari-hari  tidak begitu penting  dalam  sastra  imajinatif.  Jenis-jenis  tersebut  antara  lain  puisi,  fiksi  atau  prosa  naratif,  dan  drama.

Puisi  dapat dikelompokkan menjadi  tiga, yakni:

  •  puisi epik,
  •  puisi  lirik, dan
  •  puisi dramatik.

Fiksi atau prosa naratif  terbagi atas  tiga genre, yakni novel atau  roman, cerita pendek  (cerpen), dan novelet  (novel “pendek”).

Drama adalah karya sastra yang mengungkapkan cerita melalui  dialog-dialog  para  tokohnya Pada  akhirnya,  semua  pembahasan  mengenai  sastra  imajinatif  ini  harus  bermuara pada  bagaimana  cara  memahami  ketiga  jenis  sastra  imajinatif  tersebut  secara komprehensif.  Tanpa  adanya  pemahaman  ini,  apa  yang  dipelajari  dalam  hakikat  dan jenis  sastra  imajinatif  ini  hanya  sekadar  hiasan  ilmu  yang  akan  cepat  pudar.

Sastra Non-imajinatif  
Sastra  non-imajinatif  memiliki  beberapa  ciri  yang  mudah  membedakannya  dengan sastra  imajinatif. Setidaknya  terdapat dua ciri yang berkenaan dengan sastra  tersebut. Pertama,  dalam  karya  sastra  tersebut  unsur  faktualnya  lebih  menonjol  daripada khayalinya. Kedua, bahasa yang digunakan cenderung denotatif dan kalaupun muncul konotatif,  kekonotatifan  tersebut  amat  bergantung  pada  gaya  penulisan  yang  dimiliki pengarang.  Persamaannya,  baik  sastra  imajinatif  maupun  non-imajinatif,  keduanya sama-sama  memenuhi  estetika  seni  (unity  =  keutuhan,  balance  =  keseimbangan, harmony =  keselarasan, dan  right  emphasis = pusat penekanan  suatu unsur). Sastra non-imajinatif  itu  sendiri merupakan  sastra  yang  lebih menonjolkan unsur  kefaktualan daripada  daya  khayalnya  dan  ditopang  dengan  penggunaan  bahasa  yang  cenderung denotatif. Dalam praktiknya  jenis sastra non-imajinatif  ini  terdiri atas karya-karya yang berbentuk esai, kritik, biografi, autobiografi, memoar, catatan harian, dan surat-surat.

PUISI

Pengertian dan Ciri-ciri Puisi
Puisi  ialah perasaan penyair yang diungkapkan dalam pilihan kata yang cermat, serta mengandung rima dan irama. Ciri-ciri puisi dapat dilihat dari bahasa yang dipergunakan serta  dari  wujud  puisi  tersebut.  Bahasa  puisi  mengandung  rima,  irama,  dan  kiasan, sedangkan wujud puisi terdiri dari bentuknya yang berbait, letak yang tertata ke bawah, dan  tidak mementingkan  ejaan. Untuk memahami  puisi  dapat  juga  dilakukan  dengan
membedakannya  dari  bentuk  prosa.

Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Puisi 
Sebuah  karya  sastra  mengandung  unsur  intrinsik  serta  unsur  ekstrinsik.  Keterikatan yang  erat  antarunsur  tersebut  dinamakan  struktur  pembangun  karya  sastra. Unsur  intrinsik  ialah unsur yang secara  langsung membangun cerita dari dalam karya itu  sendiri,  sedangkan  unsur  ekstrinsik  ialah  unsur  yang  turut membangun  cerita  dari luar  karya  sastra.  Unsur intrinsik yang terdapat dalam puisi, prosa, dan drama memiliki perbedaan, sesuai dengan ciri dan hakikat dari ketiga genre tersebut. Namun unsur ekstrinsik pada semua jenis  karya  sastra  memiliki  kesamaan.  Unsur  intrinsik  sebuah  puisi  terdiri  dari  :

  • Tema,
  • Amanat,
  • Sikap  atau  nada,
  • Perasaan,
  • Tipografi,
  • Enjambemen,
  • Akulirik,
  • Rima,
  • Citraan, dan
  • Gaya bahasa.

Unsur ekstrinsik yang banyak mempengaruhi puisi antara lain:

  • unsur biografi,
  • unsur kesejarahan, serta
  • unsur kemasyarakatan.

Jenis-jenis Puisi
Berdasarkan waktu kemunculannya puisi dapat dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu puisi lama,  puisi  baru,  dan  puisi  modern :

Puisi lama adalah puisi yang lahir sebelum masa penjajahan Belanda, sehingga belum tampak  adanya  pengaruh  dari  kebudayaan  barat.  Sifat masyarakat  lama  yang  statis dan objektif, melahirkan bentuk puisi yang statis pula, yaitu sangat  terikat pada aturan tertentu.  Puisi  lama  terdiri  dari  mantra,  bidal,  pantun  dan  karmina,  talibun,  seloka, gurindam,  dan  syair.

Puisi  baru  adalah  puisi  yang muncul  pada masa  penjajahan Belanda,  sehingga  pada puisi baru tampak adanya pengaruh dari kebudayaan Eropa. Penetapan jenis puisi baru berdasarkan pada  jumlah  larik yang  terdapat dalam setiap bait. Jenis puisi baru dibagi menjadi  distichon,  terzina,  quatrain,  quint,  sextet,  septima,  stanza  atau  oktaf,  serta soneta.

Puisi  modern  adalah  puisi  yang  berkembang  di  Indonesia  setelah  masa  penjajahan Belanda. Berdasarkan cara pengungkapannya, puisi modern dapat dibagi menjadi puisi epik,  puisi  lirik,  dan  puisi  dramatik.

Analisis Unsur-unsur Intrinsik Puisi
Untuk  memahami makna  sebuah  puisi  dapat  dilakukan  dengan menganalisis  unsur-unsur  intrinsiknya,  misalnya  dengan  mengkaji  gaya  bahasa  dan  bentuk  puisi.  Gaya bahasa yang dipergunakan penyair mencakup:

  1. Gaya bunyi yang meliputi: asonansi, aliterasi,  persajakan,  efoni,  dan  kakofoni.
  2. Gaya  kata  yang  membahas  tentang pengulangan  kata  dan  diksi.
  3. Gaya  kalimat  yang  berisi  gaya  implisit  dan  gaya retorika.
  4. Larik,  dan
  5. Bahasa  kiasan.

Memahami puisi melalui bentuknya dapat dilakukan dengan menelaah  tipografi,  tanda baca, serta enjambemen. Untuk mempermudah dan memperjelas penganalisisan puisi, di  depan  setiap  larik  berilah  bernomor  urut.  Apabila  puisi  yang  hendak  dianalisis tersebut  memiliki  beberapa  bait,  dapat  pula  diberi  bernomor  pada  setiap  baitnya.

Penafsiran Puisi
Agar  dapat  memahami  isi  puisi  diawali  dengan  menelaah  atau  melakukan  kajian terhadap gaya maupun bentuk puisi yang bersama-sama membentuk suatu keutuhan isi  puisi. Perhatikan jika terdapat hal-hal yang menarik perhatian, misalnya judul serta kekerapan kata.  Banyaknya  kata  yang  berulang  dapat  menggiring  pembaca  dalam  memahami tema.  Jika  terdapat  bait  yang mengandung  sedikit  lirik,  biasanya  di  sanalah  tertuang tema  puisi.  Seperti  halnya  pada  judul  yang  juga  dapat membayangkan  tema.  Tetapi ingat,  judul  belum  tentu  sama  dengan  tema. Mengetahui  tema  serta  akulirik  merupakan  langkah  pertama  yang  harus  dilakukan dalam  upaya  memahami  puisi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s